Membangkitkan Taraf Berpikir Umat

Sebagaimana kita ketahui, keterpurukan umat Islam di berbagai bidang saat ini nyaris sempurna. Oleh karenanya, semua orang berharap umat Islam segera bangkit. Hanya saja, bagi banyak orang, apa itu kebangkitan dan bagaimana cara mencapainya masih diliputi debu kekaburan. Berikut ini kami menghadirkan wawancara singkat dengan Ust. Drs. Hafidz Abdurrahman, MA (HA), salah seorang aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), untuk mengulas bagaimana membangkitkan umat Islam.

Tanya: Langsung saja, Ustadz. Sejauh mana sebetulnya fakta kemerosotan umat dan taraf berpikir mereka saat ini?

HA: Pertama-tama harus dijelaskan terlebih dulu batasan maju dan mundurnya umat, termasuk konstribusi pemikiran dalam menentukan kemajuan dan kemunduran mereka. Dengan begitu, kita bisa mengukur sejauh mana kemerosotan umat dan taraf berpikir mereka saat ini.

Sebelum berbicara soal batasan maju dan mundurnya umat Islam, kita harus memahami, siapakah umat Islam itu? Umat Islam itu adalah kumpulan manusia yang diikat oleh satu akidah, yaitu akidah Islam. Akidah ini mempunyai sistem yang mampu mengatur kehidupan mereka, yang tidak lain adalah sistem Islam. Nah, sebagai kumpulan manusia, tentu umat ini juga mempunyai pemikiran dan perasaan, yang dibentuk dan dicitrakan oleh akidah dan syariat Islam, seperti yang ditunjukkan dalam perilaku dan kultur politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan lain-lain pada zaman Nabi Muhammad Saw dan Khilafah Rasyidah setelahnya.

Bandingkan dengan perilaku dan kultur politik, ekonomi, sosial dan pendidikan umat Islam saat ini. Boleh dikatakan, perilaku dan kultur politik, ekonomi, sosial dan pendidikan mereka saat ini tidak lagi dibentuk dan dicitrakan oleh akidah dan sistem mereka, yaitu akidah dan sistem Islam; justru dibentuk dan dicitrakan oleh akidah dan sistem kapitalis. Akibatnya, sebut saja dalam bidang politik, lahir budaya politik oportunis itu. Coba saja lihat dalam Pemilu kemarin. Esok dele, sore tempe. Kemarin menolak si A karena dianggap begini dan begitu, sekarang mendukung si B dengan alasan ini dan itu. Nah, perilaku politik seperti ini jelas tidak dibangun berdasarkan pemikiran, tetapi kepentingan. Belum lagi soal korupsi dan jual-beli suara di lembaga legislatif. Maka, yang berbicara bukan akal sehat, cita-cita dan gagasan, tetapi uang dan kepentingan. Dengan kata lain, perilaku dan budaya mereka bukan dibangun berdasarkan akidah dan sistem yang mereka yakini, tetapi kepentingan jangka pendek mereka. Kalau sudah begitu, tidak ada bedanya antara Muslim dan non-Muslim; antara ulama dan abangan; antara intelektual dan preman. Sama saja. Semuanya ini membuktikan betapa mundurnya umat ini dan betapa rendahnya taraf pemikiran mereka. Bahkan perilaku dan budaya mereka tak ada bedanya dengan perilaku dan budaya Jahiliah, sebelum Islam dulu.

Tanya: Umat Islam dulu memperoleh kejayaan selama berabad-abad. Taraf berpikir mereka begitu tinggi. Menurut Ustadz, seperti apa sih gambaran secara singkat ketinggian taraf berpikir kaum Muslim dulu itu?

HA: Ketinggian taraf berpikir kaum Muslim dulu bisa kita lihat dari madaniyah yang mereka hasilkan, seperti gedung, observatorium, termasuk sains dan teknologi pada zaman itu. Selain itu, juga bisa kita lihat dari hadhârah-nya, sebagai kumpulan pemahaman tentang kehidupan, seperti yang tertuang dalam khazanah keilmuan (tsaqâfah) Islam klasik, semisal fikih, tafsir, dan lain-lain. Madaniyah dan hadhârah ini tidak lain merupakan produk pemikiran yang bisa diukur.

Tanya: Bisa Ustadz jelaskan apa yang disebut dengan taraf berpikir rendah dan tinggi itu dan apa pula cirinya?

HA: Taraf berpikir rendah dan tinggi itu bisa dilihat dari kualitasnya. Misalnya, berpikir untuk makan jelas beda kualitasnya dengan berpikir untuk mencari makan dengan cara tertentu. Yang pertama didorong oleh rasa lapar, sedangkan yang kedua didorong oleh kesadaran, bahwa tuntutan kebutuhan jasmani tadi harus dipenuhi, tetapi tidak semata-mata dipenuhi, melainkan dipenuhi dengan cara tertentu. Maka, kualitas berpikir yang kedua jelas lebih tinggi dibandingkan dengan yang pertama. Karena itu, yang pertama itu disebut taraf berpikir hewani, sedangkan yang kedua disebut taraf berpikir insani.

Tanya: Jadi, menurut Ustadz, mengapa taraf berpikir umat ini merosot sampai begitu rendah?

HA: Karena umat ini telah meninggalkan metode berpikir mereka yang produktif, terutama setelah tradisi berpikir ijtihadi telah ditutup pada abad ke-4 H, melalui fatwa al-Qaffal. Akibatnya, pemikiran yang mereka miliki menjadi mandul, karena jarang dimanfaatkan untuk menyelesaikan setiap persoalan yang berkembang.

Tanya: Negeri-negeri Islam sekarang dalam posisi yang terpinggirkan. Apakah ini ada hubungannya dengan kemerosotan berpikir yang melanda umat saat ini?

HA: Itu sudah jelas. Hilangnya metode berpikir mereka yang produktif itu menyebabkan mereka tidak bisa bangkit dan menemukan jawaban atas persoalan yang mereka hadapi. Tentu ini menyebabkan mereka menjadi tidak independen. Jangankan memimpin dunia, menyelesaikan masalah internal mereka saja tidak bisa. Akhirnya, mereka lebih senang mengikuti telunjuk negara-negara kafir imperialis dengan membabi buta. Nah, kalau sudah begitu, pasti mereka akan terpinggirkan, dan tidak akan pernah bisa mendominasi dunia.

Tanya: Lantas, dimana peran negara dalam hal ini?

HA: Negara memang harus mengadopsi pemikiran yang diyakini oleh rakyatnya. Karena kebanyakan negeri Muslim itu penduduknya adalah Muslim, yang tentu berakidah Islam, maka seharusnya negara mengadopsi Islam sebagai UUD dan perundang-undangannya. Dengan begitu, rakyat akan bisa menjalankan pemikiran yang menjadi keyakinan mereka. Kalau ini dilakukan, pemikiran mereka akan berkembang, karena pemikiran mereka tidak lagi berupa hipotesis atau teori, tetapi nyata dan aktual. Kenyataannya sekarang jelas tidak begitu. Sebab, apa yang diterapkan beda dengan apa yang diyakini. Akibatnya, pemikiran yang menjadi keyakinan mereka pun terhambat dan tidak bisa berkembang. Kemandegan proses berpikir pun tak bisa dihindarkan. Inilah yang menyebabkan mengapa umat Islam saat ini, baik ulamanya maupun orang biasa, menatap krisis multidimensi yang menimpa mereka seolah-olah seperti orang ‘bloon’. Tidak tahu, apa yang harus dilakukan.

Tanya: Ada anggapan, ketinggian taraf berpikir itu identik dengan kebebasan berpikir. Sebagian orang menganggap, kemerosotan taraf berpikir itu karena tidak adanya kebebasan berpikir itu. Menurut Ustadz, benarkah demikian?

HA: Ini hanya mitos. Freedom of Thinking itu tidak akan menghasilkan apa-apa jika orang yang diberi kebebasan berpikir tidak mempunyai metode berpikir yang produktif. Lihat saja, berapa banyak karya orientalis dan murid-murid mereka yang diberi kebebasan berpikir? Coba bandingkan dengan karya para ulama kaum Muslim ketika itu yang hidup bukan pada zaman Freedom of Thinking. Sampai sekarang khazanah intelektual Islam tidak bisa ditandingi oleh karya intelektual manapun, termasuk oleh intelektual yang diberi kebebasan berpikir seperti para orientalis dan murid-murid mereka itu.

Tanya: Ustadz, apakah demokrasi dan kebebasan, termasuk di dalamnya kebebasan berpikir, bisa membangkitkan taraf berpikir umat ini?

HA: Logika mereka begini, bahwa umat ini akan maju kalau reason mereka produktif. Reason itu bisa produktif kalau ada kebebasan untuk berpikir, sementara kebebasan berpikir itu hanya ada jika ada demokrasi. Ini merupakan kesimpulan logika, yang bisa benar dan bisa salah. Yang jelas, bagi umat Islam justru sebaliknya. Sebab, kebebasan berpikir itu akan menyebabkan umat Islam meninggalkan pemikiran Islam, yang justru itu menjadi kontraproduktif dengan logika berpikir mereka, sebagaimana yang saya katakan di atas. Maka, yang dibutuhkan umat Islam saat ini bukan demokrasi agar kebebasan berpikir itu ada, sehingga reason mereka menjadi produktif. Sekali lagi bukan itu. Tetapi, umat ini harus mengambil kembali metode berpikir mereka yang produktif sehingga bisa menghasilkan solusi atas berbagai problem yang mereka hadapi. Dari sana, mereka menjadi independen, dan tidak bergantung kepada umat atau bangsa lain. Dengan begitu, mereka akan berpotensi merebut kembali kepemimpinan dunia.

Tanya: Bagaimana menurut Ustadz, gagasan ‘rethinking Islam’, ‘liberalisme Islam’, dan ‘dekonstruksi syariat’ seperti yang banyak dilontarkan oleh kalangan Muslim liberal. Apakah bisa menjadi solusi?

HA: Sama sekali tidak. Semua gagasan itu justru membuat umat ini akan menghadapi kebingungan yang luar biasa. Akibatnya, mereka akan terpuruk, bahkan bisa jadi mereka akan mengalami depresi mental luar biasa. Jangankan memimpin orang lain, mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya: apakah dia Muslim atau tidak, dia pun sudah tidak tahu lagi. Lalu bagaimana mau menghasilkan solusi dan memecahkan masalah orang lain? Wong, memecahkan masalahnya sendiri saja tidak becus, kok.

Tanya: Di tengah kaum Muslim terjadi banyak perdebatan tentang posisi akal dalam Islam. Ada yang sangat kebablasan menggunakan akalnya, ada juga yang menolak peran akal sama sekali. Dimana sebenarnya letak dan peran akal dalam Islam? Bisa Ustadz jelaskan.

HA: Akal bisa berfungsi untuk melakukan idrâk, dan bisa juga berfungsi fahm. Idrâk adalah fungsi akal untuk menghukumi fakta yang bisa dijangkau oleh indera manusia, sedangkan fahm adalah fungsi akal untuk memahami apa yang tidak bisa dijangkau oleh indera manusia, tetapi disampaikan oleh informasi yang bisa diterimanya. Menghukumi fakta, bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah adalah fungsi idrâk; menarik hukum dari al-Qur’an, bahwa khamer hukumnya haram adalah fungsi fahm; sementara menghukumi alkohol adalah khamer atau tidak bisa dimasukkan dalam kategori idrâk, karena hukum tersebut dikeluarkan melalui proses pembuktian fakta yang bisa dijangkau oleh indera.

Tanya: Kembali pada masalah awal. Bagaimana kita bisa mewujudkan kembali ketinggian taraf berpikir umat ini, Ustadz?

HA: Dengan menggunakan kembali metode berpikir produktif yang telah diwariskan oleh Islam. Caranya dengan menggunakan khazanah keilmuan Islam yang kita miliki untuk menghukumi fakta yang kita hadapi. Dengan melakukan proses tersebut secara berulang-ulang, maka metode berpikir produktif tersebut akan terbentuk di dalam diri kita. Jika ini dimiliki oleh umat maka umat pun pasti akan mampu menyelesaikan problem yang mereka hadapi. Jadi, kuncinya memang terletak pada metode berpikir produktif mereka. Bukan yang lain.

Tanya: Terakhir, Ustadz. Sebagai partai politik, apa yang telah dilakukan oleh Hizbut Tahrir untuk meningkatkan taraf berpikir umat ini?

HA: Caranya dengan melakukan aktivitas politik. Karena aktivitas politik yang dilakukan Hizb adalah aktivitas mengurusi urusan umat dengan pemikiran Islam. Mula-mula pemikiran Islam tersebut ditanamkan di tengah-tengah umat sebagai pemikiran yang harus mereka yakini, lalu pemikiran tersebut mereka gunakan untuk mengurusi setiap persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, aktivitas politik Hizb tidak hanya berhenti pada tataran menyampaikan pemikiran, tetapi sampai pemikiran tersebut benar-benar diimplementasikan untuk mengurusi setiap persoalan yang mereka hadapi. Jika ini terjadi, maka pemikiran umat akan berkembang, dan mereka pun akan maju menjadi umat yang disegani. [Majalah al-wa’ied, Edisi 51]

 

 

About Blog Resmi Konferensi Khilafah Mahasiswa Sulawesi Tenggara

............ coming soon .........

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: