Prof.Dr.-Ing. Fami Amhar: Bangkit Tanpa Khilafah, Susah Dibayangkan.

Kebangkitan Islam telah lama dicanangkan. Namun, perumusannya boleh dikatakan masih tetap simpang-siur, termasuk apa hakikat kebangkitan Islam, bagaimana mencapainya, dan dari mana memulainya. Sebagian kalangan memandang kebangkitan Islam harus dimulai dari kebangkitan akhlak; sebagian lain menunjuk kebangkitan ekonomi; sebagian lagi berkeyakinan bahwa kebangkitan Islam harus dimulai dari —sekaligus dicirikan oleh— kebangkitan teknologi, dan lain-lain. Banyak elemen umat yang sudah dan tengah mengusahakan kebangkitan umat berdasarkan visi, persepsi, dan orientasi masing-masing; yang kadang-kadang kontraproduktif dengan kebangkitan Islam itu sendiri.

Karena itu, dalam upaya lebih memahami kebangkitan Islam yang sahih, bagaimana cara mencapainya, dan mulai dari mana upaya tersebut dimulai, berikut ini kami menghadirkan wawancara singkat dengan Ust. Prof. Dr. -Ing. H. Fahmi Amhar (FA) —salah seorang peneliti senior pada Badan Koordinasi Survei & Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), dosen luar biasa pada pascasarjana IPB dan Univ. Paramadina, sekaligus anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia —untuk mengulas seputar kebangkitan Islam ini.

*Ustadz, kita semua mendambakan kebangkitan Islam. Sebetulnya, seperti apa sih kebangkitan Islam itu?

FA: Saya melihat, kebangkitan itu terjadi jika umat Islam secara real tidak lagi terjajah. Politik mereka benar-benar independen, ekonomi mereka tidak dijerat hutang, hukum mereka bukan imitasi warisan penjajah, dan budaya mereka tidak membebek orang-orang kafir.

*Lalu, bagaimana itu bisa kita wujudkan?

FA: Semua berasal dari kebangkitan cara berpikir.

*Terus, sejauh mana sebenarnya potensi kebangkitan yang ada di tengah umat Islam saat ini?

FA: Sebenarnya dari rahim umat Islam sedunia sudah lahir berjuta-juta Muslim yang memiliki potensi besar, baik sebagai ulama, saintis, teknokrat, ataupun industriawan. Sayangnya, ibarat sapu lidi, mereka seperti lidi yang bertebaran, tidak diikat agar bisa digunakan secara efektif. Sebagian besar dari mereka justru berkiprah di negeri-negeri Barat seperti di Jerman, Prancis, Inggris, AS, atau Jepang. Mereka dikirim ke sana untuk belajar sampai meraih PhD, kemudian mendapati bahwa situasi dan kondisi negeri asal mereka belum siap untuk menggunakan keahlian mereka. Akhirnya mereka menetap di sana. Merekalah yang membuat pesawat di Jerman, reaktor nuklir di Inggris, atau satelit di AS.

*Jadi, bagaimana sebetulnya peluang bagi kebangkitan Islam ini?

Peluangnya besar. Kredibilitas Barat (terutama AS) saat ini semakin turun. Mereka tidak konsisten dengan jargon-jargonnya sendiri seperti demokrasi, HAM, dan lain-lain. Untuk jangka panjang, mereka juga membahayakan masa depan mereka sendiri, dengan kerusakan ekologis yang sangat parah di planet ini, akibat ketamakan ideologi mereka. Hubungan sosial di dalam masyarakat mereka juga sudah amat rapuh.

*Tadi Ustadz mengatakan, peluang kebangkitan Islam itu besar. Bagaimana dengan tantangannya?

FA: Peluangnya memang besar, tetapi tantangannya juga tak kurang besar. Dari segala lini, umat ini sudah digempur. Sudah berpuluh tahun kepada mereka dicekokkan pendidikan sekular, ekonomi ribawi, budaya “membebek”, bahkan kepercayaan yang sinkretis (semua agama sama, red.). Para kapitalis tidak akan rela kepentingan kapitalistik-egoistiknya di masa depan tergugat oleh bangkitnya umat Islam. Karena itu, mereka mengerahkan segala cara untuk menghadang Islam ideologis. Islam ideologis ini akan dituduh teroris. Pokoknya semua yang anti-Barat akan mereka cap sebagai teroris.

*Melihat kemajuan teknologi Barat, banyak orang yang akhirnya berpendapat bahwa umat ini hanya akan bangkit dengan teknologi. Menurut Ustadz, apakah memang kemajuan teknologi itu menjadi syarat kebangkitan?

FA: Teknologi bukan syarat kebangkitan, tetapi produk kebangkitan. Namun, menguasai teknologi bisa menjadi titik masuk yang baik untuk dakwah menuju kebangkitan Islam. Orang masih memiliki stereotip bahwa aktivis dakwah itu anti teknologi. (Ingat masjid yang anti loudspeaker!). Atau bahwa kalau mau menguasai teknologi ya harus sekular. Maka kita harus tunjukkan, bahwa meski kita sangat mengusai teknologi, kita juga sangat meyakini Islam sebagai akidah yang rasional. Dan inilah dasar suatu mabda’ (ideologi).

*Ustadz, jika teknologi bukan syarat kebangkitan, lalu dimana posisi teknologi dalam proses kebangkitan itu?

FA: Teknologi jelas memiliki peran dalam proses kebangkitan, namun bukan yang paling mendasar. Teknologi dimana pun lebih sebagai produk dari suatu proses sosial yang telah berhasil. Eropa baru menelurkan banyak penemuan teknologi setelah konflik (penguasa) negara dengan (kalangan) agama mereda. Demikian juga, Amerika baru menyusul ketertinggalan teknologinya setelah perang saudara yang melelahkan berakhir.

*Jika nanti Khilafah Islamiyah sudah berdiri, bagaimana strategi yang akan ditempuh untuk memajukan teknologi?

FA: Di masa lalu, dan ini juga yang akan ditempuh nantinya, Khilafah selalu menempuh tiga jalur sekaligus: kesadaran individu, kultural, dan struktural.

*Ustadz, bagaimana gambaran kebijakan Khilafah dalam level individu itu?

FA: Pada level individu, ditanamkan ajaran Islam yang mencintai ilmu, memerangi tahayul, serta bahwa bila ada suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itupun menjadi wajib. Dan sesuatu ini bisa teknologi. Jihad hukumnya wajib. Jihad tidak akan sempurna bila teknologi pendukungnya tidak ada. Maka kaum Muslim lalu mengembangkan astronomi (untuk navigasi armada laut), kedokteran (untuk mengobati mujahidin yang terluka), atau kimia (untuk bikin mesiu), dan sebagainya.

*Kalau begitu bisa disimpulkan, bahwa dalam hal teknologi ini Khilafah akan memacu dan mengembangkan inisiatif dan kreativitas individu untuk kemajuan teknologi. Lalu dalam level kultural masyarakat, bagaimana kebijakan Khilafah dalam hal ini?

FA: Pada level kultural, disemai opini bahwa menjadi saintis atau teknokrat itu terhormat, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Tinta ilmuwan itu sama beratnya dengan darah syuhada. Walhasil, rakyat jelata lebih mengagumi para ilmuwan, saintis, atau teknokrat, daripada artis atau penyanyi dangdut. Para hartawan pun belum merasa puas sebelum “jor-joran” untuk kemajuan teknologi. Mereka wakaf perpustakaan, lab, atau observatorium, lengkap dengan membayar tenaga ahlinya. Bukan seperti hartawan sekarang, wakafnya bikin masjid melulu. Ya meskipun ada hadis, “Barangsiapa membuat masjid di dunia karenaKu, maka Kubuatkan istana untuknya di akherat”. Tentunya ini konteksnya kalau masjidnya kurang. Sekarang ini di banyak tempat, masjidnya sudah cukup, tapi sarana-sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat langka.

*Kebijakan pada level individu dan kultural itu tentunya harus didukung dengan kebijakan pada level struktural negara. Yang terakhir ini bagaimana, Ustadz?

FA: Pada level struktural, negara jelas sangat berperan. Amerika saja bisa sangat maju karena negara memberi stimulus yang luar biasa. Teknologi komputer, ponsel dan internet, semula dikembangkan untuk keperluan pertahanan. Dalam negara Khilafah, negara juga sponsor pengembangan jenis teknologi yang perlu perhatian lebih. Pada level tertentu, para ulama atau saintis tidak bisa bekerja dengan mengharap hasil dalam jangka pendek. Kalau mereka tidak dicukupi hidupnya oleh negara, ya mungkin mereka sudah beralih profesi jadi calo atau jadi selebiritis saja. Dan untuk menjaring pemuda-pemuda cerdas yang akan menekuni teknologi, perlu dibuka sekolah-sekolah unggulan yang gratis. Pasti deh jadi rebutan anak-anak pintar, sekalipun mereka secara ekonomi tak mampu. Ini persis seperti yang dilakukan Jerman (di mana sekolah sampai PhD juga gratis). Atau seperti sekolah-sekolah top di Amerika yang memberikan beasiswa penuh kepada juara Olimpiade Fisika dari seluruh dunia.

*Ustadz, dengan teknologi yang tersedia di Dunia Islam saat ini, mampukah kaum Muslim bangkit melawan musuh-musuhnya?

FA: Masalahnya, itu ada pada orang-orangnya, bukan pada teknologinya semata. Teknologi bisa dihancurkan dalam sekejap atau dihabisi pelan-pelan dengan embargo. Tetapi kalau kita memiliki sumberdaya insani yang kuat akidahnya, teguh menggenggam mabda’ (ideologi)-nya, dan istiqamah melaksanakan segala perintah syariat yang merupakan konsekuensi mabda’, saya yakin dalam waktu singkat mereka bisa menyusul ketertinggalan teknologi.

*Apakah hal itu sudah ada buktinya?

FA: Ada, dan sangat banyak. Contohnya, dulu teknologi Rasulullah itu jauh di bawah Romawi atau Persia. Tapi para sahabat kemudian terbakar oleh mabda’ yang memerintahkan untuk mengejar ilmu, walaupun sampai negeri kafir, yaitu negeri Cina. Maka tak sampai seabad, teknologi kaum Muslim sudah jauh melampaui Romawi dan Persia, bahkan juga Cina. Jadi, persoalannya bukan, “Where are we?”, namun “Where are we going to?”. Bukan teknologi yang tersedia di Dunia Islam sekarang, namun teknologi yang akan kita kuasai, bila kita bangkit. Kalau Khilafah tegak kembali, dan mulai memancarkan pesonanya, maka tidak cuma para saintis dan teknokrat Muslim —yang sekarang berkiprah di Barat— yang akan berdatangan ke negara Khilafah. Mereka yang non-Muslim pun mungkin akan merasa lebih nyaman dan terhormat untuk berkiprah di sana, sebagaimana saintis Muslim sekarang bangga berkiprah di Jerman atau di Amerika.

*Ustadz, kalau teknologi lebih sebagai produk kebangkitan, artinya kemajuan teknologi bukan metode kebangkitan, tetapi hasil dari proses kebangkitan. Lalu, menurut Ustadz, bagaimana metode kebangkitan Islam yang sahih itu?

FA: Bangkitkan dulu pikirannya. Jadikan pikiran-pikiran yang bangkit ini menjadi opini umum. Opini akan menjadi perasaan umum yang menyatukan masyarakat. Setelah itu, tinggal cari kekuatan yang mampu melindungi penerapan seluruh syariat Islam. Politiknya syar’i. Ekonominya syar’i. Pendidikannya syar’i. Pengembangan teknologinya juga syar’i. Pasti setelah itu akan terjadi kebangkitan Islam. Setelah itu baru kita akan disegani bangsa dan negara lain.

*Terakhir, Ustadz. Mungkinkah Islam bangkit tanpa Khilafah?

FA: Susah membayangkannya. Sama susahnya membayangkan orang berdiri tanpa kaki atau menyeberang samudra tanpa bahtera.

Biodata:

Prof. Dr. -Ing. H. Fahmi Amhar, lahir di Magelang, 15 Maret 1968. Setelah lulus SMAN 1 Magelang tahun 1986 sempat kuliah di jurusan Fisika ITB selama satu semester. Beliau kemudian mendapat beasiswa dari Habibie (OFP-Ristek) untuk melanjutkan studi di Eropa Barat. Ust. Fahmi bermukim di Austria selama hampir 10 tahun hingga meraih gelar “Doktor der technischen Wissenschaften” dari Technische Universitaet Wien (Vienna University of Technology), Wina, Austria 1997, dengan disertasi dalam bidang geomatics engineering.

Beliau menyukai dunia ilmiah dan dakwah sejak remaja. Tahun 1984-1986 Fahmi “langganan” juara Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI tingkat nasional. Semasa SMA pula beliau ikut mendirikan Keluarga Remaja Islam Magelang (Karisma). Di Austria Ust. Fahmi menjadi motor pengajian mahasiswa dan TPA di KBRI.

Saat ini Ust. Fahmi bekerja sebagai peneliti senior pada Badan Koordinasi Survei & Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), juga dosen luar biasa pada pascasarjana IPB dan Univ. Paramadina. Tahun 2001 Ust. Fahmi meraih penghargaan Peneliti Terbaik bidang Teknologi dalam Pemilihan Peneliti Muda Indonesia yang diadakan oleh LIPI.

Ust. Fahmi menikah dengan dr. Arum Harjanti dan sudah dikarunia tiga anak: Fitri Hasanah Amhar, Faizah Hidayati Amhar dan Fahri Hasanuddin Amhar. [Majalah al-wa’ie, Edisi 54]

About Blog Resmi Konferensi Khilafah Mahasiswa Sulawesi Tenggara

............ coming soon .........

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: