REPOSISI GERAKAN ISLAM

Oleh Drs. Hafidz Abdurrahman, MA

 Akar Historis dan Politis

Hilangnya pemikiran produktif dari diri umat, pasca dihembuskannya penutupan pintu ijtihad pada abad ke-4 H/10 M melalui fatwa al-Qaffal (w. 340 H), telah mengakibatkan umat Islam kehilangan kekayaan pemikiran (al-tsarwah al-fikriyyah). Dampak hilangnya intellectual resources ini terlihat dengan jelas ketika Khilafah Utsmaniyah berhadapan dengan kemajuan Eropa yang fantastis pasca Renaisans abad ke-18 M. Melalui Sultan ‘Abdul Majid (1839-1861 M), Khilafah Utsmaniyah melancarkan apa yang disebut dengan Tanzhîmât (reorganisasi). Sekolah-sekolah baru yang berciri sekular didirikan untuk melatih kalangan militer dan korps birokrasi dengan mengorbankan madrasah tradisional. Ketentuan hukum dan peradilan diadaptasi dari Eropa untuk mengatur masalah sipil, perdagangan, dan hukum menggantikan syariah, seperti yang terlihat dalam al-Ahkâm al-‘Adliyyah, yang dikeluarkan pada tanggal 10 Maret 1885 M

Dari sinilah cikal-bakal lahirnya gerakan nasionalisme Turki dan Arab. Gagasan nasionalisme ini awalnya dikembangkan oleh kaum Muslim yang pernah tinggal di Eropa, khususnya Prancis. Sebut saja, Rifa‘ah at-Thahtawi asal Mesir, dan Khayruddin at-Tunisi asal Tunisia; selain beberapa nama lain yang terpengaruh oleh  kebudayaan Barat seperti Jamaluddin al-Afghani, ‘Abduh, Rasyid Ridha, ‘Abdurrahman al-Kawakibi, dan lain-lain. Mereka merupakan pelopor nasionalisme Arab. Sementara itu, di Turki ada sederet nama seperti Namik Kamal, Ziya Gokalp, Medhad Pasha, Jamal Pasha, dan Kamal Attaturk yang merupakan pelopor nasionalisme Turki. Dari tangan merekalah, Turki Muda—yang kelak berhasil menumbangkan Khilafah Utsmaniyah itu—lahir.[1]

Gerakan nasionalisme yang dihembuskan oleh Barat inilah yang pada akhirnya berhasil menggerogoti keutuhan wilayah Islam. Di Mesir dan Syam, muncul pemberontakan yang dilakukan oleh Muhammad ‘Ali, yang merupakan agen Prancis. Di Irak, muncul pemberontakan yang dilakukan oleh Mamalik (1817-1831 M) dengan bantuan Inggris. Di Hijaz, muncul pemberontakan yang dilakukan oleh Muhammad bin Sa‘ud, yang merupakan agen Inggris, dengan bantuan Wahabi (1703-1791 M), terutama setelah gerakan keagamaan yang ini berubah menjadi gerakan politik pada pertengahan abad ke-18 M. Gerakan ini juga mempengaruhi lahirnya Sanusiyah (1787-1859 M) dan Mahdiyah (1885-1844 M) di Sudan, yang bekerjasama dengan Muhammad ‘Ali, juga Syawkaniyah (1758-1835 M) di Yaman.[2] Belum lagi gerakan nasionalisme Turki yang bergerak di jantung Khilafah Utsmaniyah, Istambul. Akhirnya, sejarah mencatat runtuhnya Khilafah Islam di tangan gerakan-gerakan nasionalis ini. Di sisi lain, gerakan keagamaan (Islam) yang bermunculan pada zamanya tidak mampu membendung kemerosotan demi kemerosotan yang diderita oleh Khilafah Islam. Justru, tidak sedikit yang dieksploitasi oleh negara-negara Barat untuk melemahkan eksistensi Khilafah Islam, seperti kasus Wahabi, Mahdi, dan lain-lain.

Karena rendahnya intellectual resources umat, gerakan-gerakan tersebut hanya mempunyai satu tujuan; merdeka dari cengkeraman penjajah. Akibatnya, berbagai belahan Dunia Islam yang telah lepas dari Khilafah Utsmaniyah itu tetap berada dalam undercontrol negara-negara imperialis dengan political frame yang telah mereka gariskan melalui agen intelektual, politik, dan lain-lain. Setelah itu, menjamurlah bid‘ah nation state di seluruh Dunia Islam.

Setelah Khilafah Islam benar-benar runtuh, umat Islam—yang intellectual resources-nya rendah ini—telah disibukkan oleh perdebatan sengit antara Pan-Arabisme atau Pan-Islamisme; manakah yang lebih layak untuk membangkitkan umat Islam?  Akibatnya, mereka terjebak dalam polemik berkepanjangan sehingga lupa akan cita-cita mengembalikan kejayaan Islam dengan menegakkan Khilafah Islam. Pasca runtuhnya Khilafah, Dunia Islam juga tidak hanya kehilangan intellectual resources Islam yang produktif, tetapi juga kemunduran materi secara drastis. Seluruh Dunia Islam telah berubah menjadi Dunia Ketiga setelah sebelumnya menjadi Dunia Pertama. Dunia yang asalnya disatukan dalam sebuah negara akhirnya terkoyak menjadi 50 lebih nation state. Konflik internal, perang saudara, dan perang buatan juga telah mewarnai dunia mereka yang berakibat pada semakin kukuhnya cengkeraman imperialis kafir atas wilayah mereka. Prestasi ekonominya terpuruk: mata uangnya menurun drastis, utangnya meningkat, serta jumlah pengangguran dan tunawismanya begitu fantastis. Rekor kriminilatas, baik kejahatan individu, sosial, ekonomi, politik dan lain-lain meningkat. Sebaliknya,  aktivitas amar makruf nahi mungkar diaborsi. Fitnah dengan mudah dihembuskan. Kecurigaan dan sakwa-sangka juga mewarnai hubungan sesama mereka akibat ulah agen-agen intelijen yang jumlahnya begitu banyak. Semua negara mereka undercontrol negara-negara imperialis: Amerika, Inggris, dan Prancis. Para penguasa wilayah tersebut juga tak ubahnya seperti boneka.

Di tengah situasi seperti inilah, suara kebangkitan yang diserukan oleh berbagai gerakan Islam samar-samar terdengar. Bahkan, tulis Huntington, kebangkitan Islam telah berhasil merekonstruksi kebijakan sejumlah rezim di Dunia Islam yang lebih pro-Islam ketimbang Barat.[3]

Namun demikian, kebanyakan gerakan Islam tersebut lahir sebagai reaksi sehingga kemunculannya bersifat spontan. Karena itu, umumnya mereka tidak memiliki visi, misi, tujuan, dan strategi yang jelas. Ketiadaan suprastruktur itulah yang menyebabkan gerakan-gerakan tersebut tidak mempunyai human resources yang mempunyai kesadaran yang sahih (al-wa‘y as-shahîh), selain mengandalkan ketokohan, kedudukan, dan kepentingan yang sama. Akibatnya, banyak gerakan Islam mengalami disorientasi, bahkan sering dieksploitasi oleh kepentingan rezim dan negara-negara imperialis kafir.

Kasus gerakan Wahabi di Hijaz sebelum runtuhnya Khilafah, Harakah al-Khilafah tahun 1924 di India, Ikhwan al-Muslimin di Mesir era Revolusi Juli 1952, DII di Indonesia era 1950-an, MNLF (Moro National Liberation Front) dan MILF (Moro Islamic Liberation Front) di Mindanao, Mujahidin dan Taliban di Afganistan dekade 1990-an, dan lain-lain adalah contoh nyata. Gerakan Wahabi ditunggangi oleh kepentingan Inggris melalui Ibn Sa‘ud.[4] Harakah al-Khilafah berhasil dibelokkan sehingga menjadi nationalism movement.[5] Ikhwan pengaruhnya dimanfaatkan oleh agen Amerika, Gamal Abdul Nasser, untuk menggulingkan Raja Faruk, pada era Revolusi Juli, dan setelah itu mereka dibantai oleh “kawan” seperjuangnya. Pengaruh DII di Sumatera dimanfaatkan oleh Amerika untuk menyulut pemberontakan di wilayah tersebut dan, setelah itu, Amerika menawarkan “bantuan” kepada pemerintah RI untuk menumpas gerakan tersebut.[6] MNLF dieksploitasi oleh Inggris untuk memisahkan diri dari Filipina yang dicengkeram Amerika. Mujahidin, yang dilatih dan dibantu penuh oleh Amerika untuk menggulung cengkeraman Uni Soviet di Afganistan, kemudian  dihabisi oleh Taliban yang sebelumnya juga dibentuk dan didanai oleh Amerika melalui agen-agennya, Saudi dan Pakistan. Akhirnya, Taliban juga mengalami nasib yang sama.

Munculnya gerakan milisi Muslim—akibat diamnya penguasa negeri ini terhadap pembantaian kelompok milisi Kristen atas kaum Muslim di Maluku yang tengah menunaikan shalat Idul Fitri beberapa tahun lalu—adalah pemandangan yang kasat mata. Peristiwa ini sekaligus mencerminkan political will penguasa dan the big boss-nya di negeri ini. Munculnya kelompok-kelompok lain yang melakukan gerakan amar makruf nahi mungkar secara fisik sebagai reaksi terhadap diamnya sikap penguasa terhadap berbagai kemaksiatan yang merajalela di negeri ini juga merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri. Munculnya kelompok-kelompok tersebut merupakan refleksi keprihatinan. Namun sayang, karena kemunculannya bersifat pragmatis, akhirnya aksi dan perjuangan mereka dengan mudah dieksploitasi oleh Amerika dan sekutunya— baik Australia, Singapura, maupun Filipina—untuk kepentingan politik mereka: stigmatisasi Islam. Dari sanalah, kemudian berkembang apa yang mereka sebut dengan Radikalisme Islam, Militansi Islam, Fundamentalisme Islam hingga Terorisme. Semuanya dialamatkan pada Islam dan kepada umatnya. Padahal, Amerika dan sekutunyalah yang memprovokasi dan membidani lahirnya kelompok-kelompok tersebut ketika mereka mengikat tangan, kaki, dan mulut penguasa di negeri ini dengan tekanan-tekanan internasional yang mereka mainkan, yang mengakibatkan para penguasa  itu takut mengambil tindakan. Namun demikian, sekali lagi, mereka tidak menuai ucapan terima kasih karena meringankan beban para penguasa, justru sebaliknya. Akhirnya, nasib negeri ini tidak pernah berubah, sementara citra Islam dan kaum Muslim terus terpuruk. Bahkan, lebih terpuruk lagi pasca Tragedi Bom Bali.

 

Mengevaluasi Ulang Gerakan Islam

Lahirnya gerakan Islam di Dunia Islam memang telah menjadi keniscayaan historis akibat merosotnya taraf kehidupan umat, baik sebelum maupun setelah runtuhnya Khilafah Islam. Hanya saja, realitas dan tantangan yang dihadapi gerakan Islam sebelum dan setelah runtuhnya Khilafah Islam jelas berbeda. Sebelum runtuhnya Khilafah, Dunia Islam masih merupakan Dâr al-Islâm, karena hukum yang diterapkan masih merupakan hukum Islam, dan keamanannya masih berada di tangan kaum Muslim. Masyarakatnya juga masih merupakan masyarakat Islam karena pemikiran, perasaan, dan sistemnya masih merupakan sistem Islam; sekalipun telah tercemar oleh ide-ide kufur yang disebarkan oleh gerakan-gerakan Nasionalisme, Patriotisme, dan Sosialisme. Sebaliknya, setelah runtuhnya Khilafah, Dunia Islam telah berubah menjadi Dâr al-Kufr, karena hukum dan keamanannya tidak lagi di tangan Islam dan kaum Muslim. Demikian juga masyarakatnya,  bukan lagi masyarakat Islam, meskipun dihuni oleh mayoritas kaum Muslim.

Berdasarkan dua realitas yang berbeda inilah, gerakan Islam yang hadir sebelum runtuhnya Khilafah Islam mempunyai misi yang berbeda dengan gerakan Islam pasca runtuhnya Khilafah. Misi gerakan Islam sebelum runtuhnya Khilafah Islam adalah misi ishlâh (reformasi). Sebaliknya, misi gerakan Islam pasca runtuhnya Khilafah adalah taghyîr judzuri (perubahan fundamental). Meskipun demikian, masing-masing gerakan-gerakan tersebut harus bersifat ideologis, dan tidak boleh pragmatis.

Gerakan Islam pragmatis adalah gerakan yang menyadari bobroknya realitas dan menyadari diperlukannya perubahan, namun sense of crisis tersebut langsung membawanya pada aksi tanpa dilandasi proses berpikir mengenai substansi krisis yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Mereka juga tidak memiliki ide (fikrah) yang hendak dijadikan asas perubahan masyarakat include metode (tharîqah) yang akan ditempuhnya dalam rangka merealisasikan tujuannya. Akibatnya, aksi mereka bersifat    spontan, tanpa kajian mendalam, dan umumnya tidak mempunyai tujuan yang jelas.

Sebaliknya, gerakan Islam ideologis  menyadari bobrok dan mundurnya masyarakat, kemudian sense of crisis ini membawanya untuk mengkaji dan mendalami realitas untuk mengetahui substansi krisis tersebut. Realitas masyarakat—sebagai realitas krisis—tersebut dikaji secara mendalam termasuk pemikiran, perasaan, dan sistemnya sehingga dapat diketahui sahih dan tidaknya; di samping dapat diketahui pemikiran, perasaan, dan sistem apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Setelah itu, gerakan tersebut akan merujuk pada ideologinya, yakni Islam, untuk mencari solusi krisis yang benar, yang terepresentasikan dalam akumulasi pemahaman dan sistem yang menjadi asas perubahan masyarakat.

Karena itu, kesalahan Wahabi, Sanusi, dan Mahdi sebagai gerakan ishlâh yang pernah ada dalam sejarah—ketika gerakan-gerakan ini berubah dari gerakan pemikiran menjadi gerakan fisik lalu menjelma sebagai gerakan “pemberontakan”—membuktikan bahwa gerakan-gerakan ini merupakan gerakan pragmatis, bukan ideologis. Realitas yang sama juga melekat pada sejumlah gerakan Islam pasca runtuhnya Khilafah Islam.

 

Islam: Sumber dan Standar Gerakan Islam

Dengan demikian, Islam harus menjadi sumber dan standar gerakan Islam dalam melakukan perubahan, bukan realitas. Realitas dengan berbagai symptom­-nya tidak lebih merupakan obyek yang harus dihukumi untuk kemudian dipecahkan dengan Islam. Karena itu, gerakan Islam dituntut untuk memahami Islam sebagai sebuah ideologi, yakni pemikiran yang menyeluruh mengenai alam, manusia, dan kehidupan; realitas sebelum dan setelah kehidupan atau Allah dan Hari Kiamat; serta hubungan alam, manusia, dan kehidupan dengan Allah dan Hari Kiamat, yang dihubungkan dengan syariat dan akuntabilitas (hisâb). Di dalam pemikiran tersebut juga terkandung konsep (fikrah) dan metode (tharîqah); bagaimana konsep tersebut diimplementasikan, dipertahankan, dan disebarluaskan. Di samping itu, ideologi juga menjelaskan metodenya, yaitu bagaimana ideologi tersebut disampaikan di tengah-tengah masyarakat, lalu dijadikan sebagai asas untuk membangkitkan umat serta membangun negara adidaya yang mengimplementasikannya dalam kehidupan dan mengembannya ke seluruh dunia. Pemahaman inilah yang akan menggariskan visi, misi, dan tujuan serta langkah-langkahnya gerakan Islam.

Karena gerakan Islam ini hendak mengubah masyarakat—sebagai realitas krisis—berdasarkan visi, misi, dan tujuannya dengan langkah-langkah yang telah digariskannya maka visi, misi, tujuan, dan langkah tersebut harus disosialisasikan kepada masyarakat secara terbuka. Bahkan, keberhasilan gerakan tersebut justru terealisasi ketika visi, misi, tujuan, dan langkahnya telah menjadi visi, misi, tujuan, dan langkah masyarakat. Persis pada poin ini Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi saw.:

 

} قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي {

Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku. Aku dan siapa pun yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan sejelas-jelasnya.” (QS Yusuf [12]: 108).

 

Firman Allah di atas jelas merupakan perintah agar mensosialisasikan sabîlî (jalanku) dengan gamblang. Sementara itu, substansi visi, misi, tujuan, dan langkah Rasulullah saw. adalah menyeru kepada Allah atau pada Islam. Pada awalnya, ini memang riskan, karena akan menimbulkan  penolakan dan penentangan masyarakat, bahkan perlawanan dari penguasa. Akan tetapi, demikianlah yang dialami oleh para rasul dulu:

 

} يَاحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ {

Alangkah besarnya penyesalan orang-orang itu. Tiada seorang Rasul pun yang diutus kepada mereka selain mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS Yasin [36]: 30).

 

Karena itu, risiko pertarungan (struggle) pasti akan terjadi; mula-mula pemikiran di lawan dengan pemikiran, namun pemikiran yang batil selalu tersudut dan kalah:

 

}كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ{

Demikianlah, Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Buih (kebatilan) itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, sementara yang memberi manfaat (kebenaran) kepada manusia akan tetap di bumi. (QS ar-Ra‘d [13]: 17).

 

Ketika intellectual struggle ini dimenangkan Islam, para pengemban kebatilan pasti akan melawan pemikiran dengan tindakan fisik agar mereka bisa memalingkan gerakan tersebut dari Islam. Ini merupakan titik krusial bagi gerakan Islam. Pada titik ini, biasanya ada upaya-upaya untuk mengubah haluan, baik dari dalam maupun luar gerakan. Pada titik inilah, Allah Swt. mengingatkan:

}وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ{

Jika kamu menuruti (kemauan) kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (QS al-An‘am [6]: 116).

 

Karena itu, gerakan Islam tidak boleh tunduk pada opini publik, baik domestik maupun internasional. Sebaliknya, opini tersebut harus diubah dan dibentuk agar memihak kepadanya. Dengan begitu, gerakan tersebut harus tetap memberikan loyalitas absolutnya pada Islam, bukan kepada pimpinan, anggota, apalagi masyarakat dan penguasa. Ini juga berarti, bahwa gerakan Islam tersebut dipimpin oleh pemikiran Islam, bukan oleh individu atau orang. Karena itu, ketaatan kepada individu dan orang tidak lebih dari sekadar representasi dari ketaatan pada pemikiran Islam. Inilah yang  juga akan membentuk hubungan, baik antar anggotanya maupun anggota dengan pimpinannya. Hubungan yang dibangun adalah berdasarkan pemikiran dan merupakan representasi dari pemikiran. Inilah ikatan ideologis yang melahirkan unitas—pemikiran dan perasaan (kull[un] fikr[un] syu‘ûriy[un])—antar anggota gerakan tersebut.

Namun demikian, bukan berarti sama sekali tidak memungkinkan terjadinya perubahan pada gerakan tersebut. Perubahan itu bisa saja terjadi jika ditemukan adanya kelemahan-kelemahan pada aspek tertentu dari pemikirannya setelah dalil dan argumentasinya terbukti lemah. Pada titik inilah, kemurnian dan kejernihan gerakan Islam harus dijaga dengan mengkaji titik kelemahan pemikirannya. Konsekuensinya, gerakan tersebut harus mempunyai intellectual resources Islam yang memadai, yang hanya mungkin jika tradisi dan kompetensi ijtihad dikembangkan di dalamnya. Tradisi dan kompetensi tersebut juga menjadi keniscayaan bagi gerakan ideologis. Sebab, jika tidak, ia akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan berbagai problem kekinian.

Untuk semua itu, gerakan Islam harus mempunyai tsaqâfah (konsepsi kultural)—baik yang dihasilkan dari ijtihadnya sendiri ataupun diadopsi dari khazanah pemikiran Islam sebelumnya—yang digunakan untuk  melakukan kulturisasi (tatsqîf), baik terhadap anggotanya maupun masyarakat. Kulturisasi yang dilakukan oleh gerakan tersebut juga bukan merupakan transformation of knowledge sehingga ia akan terjebak menjadi sekolah dan akan kehilangan karakternya sebagai gerakan ideologis. Karena itu, kulturisasi ini merupakan proses sadar untuk mempengaruhi dan mengubah tradisi masyarakat, baik secara individual maupun kolektif, yang masing-masing dilakukan secara intensif (murakkazî) dan kolektif (jamâ‘î).

 

Refleksi Dakwah Rasulullah saw.

Apa yang dipaparkan di atas sebenarnya bisa dilacak kembali dalam perjalanan hidup Rasulullah saw. Sebab,  perjalanan hidup Rasul (sîrah Rasûl) bukan hanya merupakan perjalanan seorang nabi dan rasul, namun juga merupakan perjalanan hidup seorang aktivis gerakan Islam, yang menjadi teladan terbaik (uswah hasanah) bagi umatnya. Beliaulah yang telah berhasil mengubah sejarah bangsa Arab sehingga menjadi bangsa adidaya di seluruh dunia. Rasulullah saw. telah menjadikan wahyu, baik al-Quran maupun as-Sunnah, sebagai tsaqâfah Islam yang digunakan untuk melakukan kulturisasi bagi individu dan masyarakat. Rasulullah saw. melakukan kulturisasi secara intensif (tatsqîf murakkazî) dengan mengirim para sahabat yang terlebih dulu mendapatkan pembinaan dari beliau ke rumah-rumah orang yang baru masuk Islam untuk mengajarkan tsaqâfah tersebut. Ini seperti yang dilakukan ketika beliau mengirim Hubab bin al-Art ke rumah Sa‘id bin Zayd dan istrinya, Fathimah binti al-Khaththab.[7] Beliau juga melakukan kulturisasi secara kolektif (tatsqîf jamâ‘i), sebagaimana yang dilakukan di rumah al-Arqam bin al-Arqam.[8] Proses tersebut beliau lakukan terus-menerus sepanjang hayat. Ini merupakan qarînah mudâwamah (indikator kontinuitas) yang menunjukkan, bahwa kulturisasi tersebut hukumnya wajib. Inilah langkah pertama Rasul.

Menurut at-Thabari, setelah tiga tahun proses kulturisasi tersebut berlangsung, dan beliau telah berhasil membentuk sebuah kelompok ideologis, Allah Swt. kemudian menurunkan ayat berikut:

 

}فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ{

Sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS al-Hijr [15]: 94).

 

Pada saat itu, beliau naik di atas Bukit Shafa dan menyeru orang-orang Quraisy untuk berkumpul. Seruan beliau—yang menjelaskan pemikiran Islam tersebut— langsung disambut dengan umpatan oleh Abu Lahab, “Celakalah kamu, Muhammad!” yang kemudian dijawab dengan turunnya surat al-Masad (111) ayat 1-5.[9] Rasulullah juga mulai menyerang kebobrokan akidah kufur, seperti yang terlihat dalam surat an-Najm (53) ayat 19. Tindakan Rasul ini mengajarkan kepada gerakan Islam, bahwa mereka tidak boleh hanya mengemukakan pemikiran Islam, tetapi juga wajib mengemukakan kebobrokan berbagai pemikiran kufur yang ada di tengah kehidupan mereka. Konsekuensinya, mereka dituntut untuk mengkaji secara mendalam berbagai pemikiran kufur untuk dihancurkan, di samping mempelajari pemikiran Islam. Inilah substansi intellectual struggle yang harus dilakukan oleh gerakan Islam. Bahkan, Rasulullah saw. juga telah melakukan political struggle, baik dengan cara membongkar konspirasi (kasyf al-muâmarah) maupun tidak. Masing-masing seperti yang terlihat dalam surat al-Mudatstsir (74) ayat 18-26 dan surat al-Muthaffifîn (83) ayat 1-6. Ini juga harus dilakukan oleh gerakan Islam. Bahkan, dua model struggle—dalam konteks yang berbeda—ini hukumnya wajib berdasarkan qarînah masyaqqah (indikator kesulitan) yang dialami Rasul saw dalam melakukan tindakan tersebut.[10] Ini merupakan langkah kedua.  

Pada saat itulah, gerakan Islam akan menghadapi berbagai ujian sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Secara umum, ujian tersebut berbentuk: (1) iming-iming materi; (2) penyiksaan fisik; (3) propaganda; (4) eliminasi, pemboikotan, dan embargo. Rasulullah saw. pernah diiming-imingi jabatan, harta, dan wanita. Akan tetapi, semuanya tidak berhasil menggoda iman Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Ini sekaligus membuktikan, bahwa mereka mempunyai  kesadaran yang sahih (al-wa‘y as-shahîh). Karena itu, kesadaran ini juga harus dimiliki oleh gerakan Islam. Jika tidak, seluruh usaha mereka akan sia-sia. Ketika mereka lolos dari ujian yang pertama ini, mereka akan menghadapi bentuk ujian kedua, yaitu penyiksaan fisik. Penyiksaan ini juga bukan hanya dialami oleh para sahabat, seperti Abu Dzar al-Ghifari, ‘Ammar bin Yasir dan keluarganya, atau Bilal bin Rabbah; bahkan Rasulullah saw. juga telah mengalaminya sendiri. Namun, tindakan ini juga tidak boleh menyurutkan langkah gerakan Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Ini juga membuktikan, bahwa gerakan beliau bukanlah gerakan pragmatis, tetapi ideologis. Namun demikian, secara manusiawi beliau tetap melakukan upaya penyelamatan dengan menghijrahkan sejumlah kaum Muslim ke Abessinia. Realitas yang sama juga dialami oleh aktivis gerakan Islam saat ini. Tidak sedikit di antara mereka menjadi pelarian politik di negara-negara Barat. Pada saat itu, musuh-musuh mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan melakukan pengejaran dan propaganda di luar negeri. Pada titik inilah, kita menemukan persamaan antara propaganda Perang Melawan Terorisme, disertai dengan kerjasama intelijen dan penangkapan aktivis di luar negeri, dengan upaya orang-orang Quraisy ketika mengirim Amr bin al-‘Ash dan ‘Abdullah bin Abi Rabi‘ah ke Abessinia, dengan menghasut Raja Najasyi agar bersedia menyerahkan kaum Muslim kepada mereka. Namun, propaganda ini akhirnya gagal. Sementara itu, mereka yang masih tinggal di Makkah dieliminasi dan mengalami pemboikotan. Selama tiga tahun, mereka menjalani proses eliminasi.

Dalam kondisi seperti ini, ketika dakwah benar-benar stagnan, Rasulullah saw. melakukan thalab an-nushrah (upaya mencari perlindungan). Beliau mendatangi Bani Tsaqif di Thaif, namun gagal, bahkan menuai penganiayaan yang luar biasa. Beliau tidak mempunyai pilihan lain, kecuali kembali ke Makkah, namun itu juga tidak mudah, kecuali jika ada orang yang melindunginya. Pada saat itu, beliau teringat kepada Muth‘im bin Adi, pemuda yang pernah bersimpati kepadanya ketika beliau menghadapi pemboikotan. Di bawah perlindungan Muth‘im, beliau kembali ke Makkah. Inilah bentuk perlindungan dakwah (himâyah ad-da‘wah) yang  beliau terima. Selama dalam perlindungan Muth‘im, atau thalab an-nushrah, Rasul tetap melakukan aktivitas dakwah secara normal. Pada saat yang sama, beliau terus mencari dukungan politik kepada kabilah-kabilah yang datang ke Makkah di  musim Haji. Dalam proses tersebut, Rasul telah menetapkan loyalitas absolut kepada Islam sebagai syarat diterima dan tidaknya nushrah mereka. Ini penting karena beliau akan membangun masyarakat yang civilized dalam sebuah negara yang  berasaskan Islam; sesuatu yang mustahil terwujud, jika penopang kekuasaannya tidak loyal kepada Islam. Karena itu, Rasulullah saw. menolak nushrah Bani Amir bin Sha‘sha‘ah, tetapi menerima nushrah Bani Aws dan Khajraj karena pertimbangan tersebut. Dari sanalah, negara Madinah—sebuah negara yang civilized itu—berdiri kokoh sebagai institusi politik yang mengimplementasikan syariat yang dibawa oleh Rasulullah. Di sanalah masyarakat yang tersohor dengan keagungan peradabannya itu harum semerbak hingga kini. Dari sana pula, Islam kemudian disebarkan sebagai intellectual leadership yang telah berhasil mengubah kehidupan penduduk 3/4 dunia menjadi umat yang mulia.

Semuanya ini membuktikan, bahwa keberhasilan gerakan Islam yang dipimpin Rasulullah saw. justru karena konsistensi gerakan tersebut dalam memegang teguh prinsip ideologisnya, apa pun risikonya. Artinya, loyalitas absolut gerakan tersebut pada Islam itulah yang merupakan satu-satunya kunci kesuksesannya.

 

Wallâhu Rabb al-Musta‘ân. []


[1]     Lihat: Azumardi, Pergolakan Politik Islam, hlm. 13-45.

[2]     Lihat: Nadiyah,  al-Ashr al-‘Utsmâni, hlm. 239-256.

[3]     Samuel P. Huntington, Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia, Penerbit Qalam, Yorgjakarta, cet. II, 2001, hlm. 194-195.

[4]     Lihat: Nadiyah,  op. cit., hlm. 259-266; ‘Abdul Qadim Zallum, Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyah, Penerbit al-Izzah, Bangil, cet. I, 2001, hlm.  10-12.

[5]  Lihat: Taqiyuddin an-Nabhani, ad-Dawlah al-Islamiyyah, Dar al-Ummah, cet. VII, 2002, hlm. 224.

[6]     Lihat:  Audre R. Kahin dan George R. Kahin, Subversi sebagai Politik Luar Negeri, Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia, Grafiti Press, cet. II, 2001, hlm. 263.

[7]  Ibn Hisyam, as-Sîrah an-Nabawiyyah, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Bairut, cet. II, 1997, juz I, hlm. 381-382.

[8]  Ibn Hisyam, op. cit., hlm. 381; Abu Nu‘aym, Hilyah al-Awliyâ’, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, cet. IV, 1405, juz I, hlm. 40; Thahir al-Maqdisi, Bad’u wa at-Târîkh, Maktabah at-Tsaqafah ad-Dainiyyah,  Kairo, t.t., juz V, hlm. 100.

[9]     At-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulk, Dar al-Fikr, Bairut, t.t., juz II, hlm. 402-403.

[10]    Lihat penjelasan as-Syafi‘i mengenai qarînah masyaqqah tersebut ketika beliau menjelaskan hadits: Lawlâ an asyuqqa ‘alâ ummatî (Seandainya saya tidak akan memberatkan). Menurutnya, jika hukumnya wajib, pasti tetap akan beliau perintahkan, tanpa lagi mempedulikan berat dan tidak. Lihat: al-Muzni,  Mukhtashar al-Muzni, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut, cet. I, 1998, hlm. 8.

About Blog Resmi Konferensi Khilafah Mahasiswa Sulawesi Tenggara

............ coming soon .........

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: